6. Protista

Mungkin kalian akan takjub ketika melihat adanya kehidupan mahluk-mahluk kecil dalam setetes air kolam melalui mikroskop. Sebagaimana takjubnya Antony Van Leeuwenhoek sehingga menuliskan kalimat “Tidak ada lagi pemandangan yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan melihat sekian ribu mahluk hidup dalam setetes air”.

Mahluk apa gerangan yang dapat kalian lihat dalam setetes air kolam? Itulah Protista, organisme eukariotik yang diduga merupakan cikal bakal organisme eukariotik lainnya. Organisme ini muncul kira-kira satu milyar tahun sebelum munculnya tumbuhan, fungi dan hewan. Bahkan fosil yang diduga fosil protista tertua  berumur sekitar 2,1 milyar tahun.

1. CIRI-CIRI UMUM PROTISTA

Semua protista memiliki nukleus sejati, sehingga dikelompokkan sebagai organisme eukariotik.  Kebanyakan protista bersifat uniseluler, namun ada beberapa yang multiseluler. Protista uniseluler memiliki kerumitan dan kompleksitas pada tingkat selnya, karena meski tubuhnya hanya berupa sel tunggal, tetapi tetap saja harus melakukan semua fungsi dasar sebagaimana yang dilakukan oleh organisme multiseluler seperti tumbuhan dan hewan.

Mengapa protista ada yang dapat berenang-renang di air? Sebagian besar protista memiliki flagela dan sebagian besar lagi memiliki cilia untuk motilitas. Flagela dan cilia pada protista ini merupakan perpanjangan dari sitoplasma dengan berkas mikrotubul yang ditutupi membran plasma. Struktur dasar flagela dan silia sama, hanya jumlah dan ukurannya yang berbeda. Cilia muncul dalam jumlah banyak pada permukaan sel dengan ukuran lebih pendek dari flagela, sedangkan flagela jumlahnya terbatas, hanya satu atau beberapa dalam setiap selnya.

Reproduksi protista sangatlah bervariasi. Beberapa protista  ada yang bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel, ada pula yang bereproduksi secara seksual dan ada pula yang melakukan singami (penyatuan dua gamet), kemudian diteruskan dengan pembelahan sel.

Bagaimana cara protista mendapatkan makanan? Beberapa protista bersifat fotoautotrof yang dapat melakukan fotosintesis, beberapa lagi bersifat heterotrof dengan menyerap molekul organik atau menelan partikel yang lebih besar. Atas dasar pola mendapatkan makanannya ini, protista dikelompokkan menjadi protozoa (protista yang menelan makanannya), alga (protista yang melakukan fotosintesis) dan protista mirip jamur (protista yang menyerap makanannya), namun penggolongan ini tidak berkaitan dengan filogeni dan taksonomi.

Protista tidak hanya ditemukan di kolam, tetapi dapat ditemukan di lautan dan danau. Bahkan pada beberapa habitat darat protista dapat hidup seperti pada tanah basah, sampah, dedaunan dan habitat darat lainnya yang cukup lembab. Selain itu, protista juga ditemukan sebagai simbion baik bersifat mutualistik maupun parasitik.

Yuk, simak ciri-ciri protista di video berikut!

2. PROTISTA MIRIP JAMUR

Kelompok protista mirip jamur memiliki penampakan dan kehidupan yang serupa dengan fungi. Sama halnya dengan jamur, protista mirip jamur tidak memiliki kloroplas dan merupakan organisme heterotrofik. Akan tetapi, baik organisasi seluler, reproduksi dan siklus hidupnya jauh berbeda dengan jamur. Protista mirip jamur ini dibedakan menjadi dua macam yaitu jamur lendir dan jamur air.

      a. Jamur Lendir

Penamaan jamur lendir disesuaikan dengan bentuk tubuhnya yaitu ketika berada pada satu tahap dalam siklus hidupnya terdiri atas masa berlendir yang menyebar. Jamur lendir terbagi menjadi dua kelompok yaitu jamur lendir plasmodial (Myxomycota) dan jamur lendir seluler (Acrasiomycota).

           a.1. Myxomycota

Pada myxomycota, misalnya genus Stemonitis, massa berlendir yang menyusun tubuhnya disebut plasmodium, suatu sel tunggal yang mengandung banyak nukleus. Plasmodium menelan makanannya melalui fagositosis, sambil tumbuh dengan cara menjulurkan pseudopodia (amoeboid) pada substratnya seperti tanah yang lembab atau daun dan kayu membusuk.

Jika habitat jamur lendir mulai mengering atau kekurangan makanan, plasmodium akan berhenti tumbuh dan membentuk tangkai-tangkai nyata (sporangium) yang menghasilkan dan membebaskan spora. Jika spora jatuh pada tempat yang cocok, maka akan berkecambah membentuk sel-sel tunggal yang bergerak dengan flagela dan pseudopodia (amoeboid). Sel-sel tersebut kemudian berpasangan dengan jenisnya (sel berflagela dengan sel berflagela dan amoeboid dengan amoeboid) untuk membentuk zigot (singami). Pembelahan nukleus pada zigot terjadi berulang-ulang tanpa pembelahan sitoplasma sehingga terbentuk plasmodium baru dengan banyak nukleus untuk memulai siklus hidup lagi.  Siklus hidup myxomycota  dapat dilihat pada gambar 5.1.

            a.2. Acrasiomycota

Pada acrasiomycota (contohnya Dyctiostelium discoideum), massa berlendir yang tampak adalah kumpulan sejumlah banyak sel yang berinti. Massa sel ini akan bermigrasi dan akhirnya menetap kemudian membentuk tubuh buah aseksual yang berbatang.

Beberapa sel akan mengering membentuk suatu batang penyokong, sementara beberapa sel lain akan merayap di atas batang penyokong dan berubah menjadi spora. Manakala spora dilepaskan dan jatuh pada lingkungan yang menguntungkan, sel amoeboid akan keluar dari lapisan pelindungnya (spora) dan menjulurkan pseudopodia untuk mulai makan dan hidup soliter. Ketika makanan habis, sel-sel tersebut akan kembali berkumpul membentuk massa berlendir kembali.

Dalam fase seksualnya, acrasiomycota yang berupa sel amoeboid akan berpasangan dan menyatu (singami) untuk membentuk zigot. Zigot ini kemudian tumbuh menjadi sel raksasa yang akan memangsa sel-sel amoeboid di sekelilingnya. Sel raksasa tersebut kemudian akan dilapisi suatu dinding yang resisten yang disebut sista dan mengalami pembelahan meiosis yang diikuti pembelahan mitosis berkali-kali. Ketika sista pecah, sel-sel amoeboid baru akan di lepaskan dan memakan bakteri di sekelilingnya dan akhirnya sel-sel tersebut akan berkumpul membentuk massa lendir dan memulai siklus hidupnya lagi. Siklus hidup acrasiomycota dapat dilihat pada gambar 5.2 .

     b. Jamur Air (Oomycota)

Beberapa anggota oomycota bersifat uniseluler, ada pula yang berupa filamen halus yang bercabang-cabang (hifa senositik). Selnya ditutupi oleh dinding sel yang tersusun atas selulosa. Contoh oomycota yaitu Phytophthora infestans, Saprolegnia dan Pythium.

Oomycota merupakan dekomposer yang tumbuh sebagai koloni serupa kapas yang menyelimuti alga atau hewan yang mati. Beberapa hidup sebagai parasit yang tumbuh pada sisik dan insang ikan disekitar jaringan yang terluka.

Di dalam siklus hidupnya, oomycota melakukan reproduksi secara aseksual dan secara seksual. Pada fase aseksual, ujung hifa senositik membentuk zoosporangia berbentuk tabung. Masing-masing zoosporangia akan menghasilkan zoospora berflagel dua (biflagelata). Zoospora yang terbungkus sista, jika jatuh pada suatu substrat, akan berkecambah dan tumbuh menjadi badan hifa senositik yang berumbai (lihat gambar 5.3).

Selang beberapa hari kemudian, mulai memasuki fase seksual dengan membentuk struktur seksual yaitu oogonia dan hifa anteredial yang berada pada cabang yang terpisah. Oogonia akan menghasilkan nukleus sel telur sedangkan hifa anteredial akan menghasilkan nukleus sperma. Peleburan nukleus sel telur dan nukleus sperma akan menghasilkan zigot yang disebut oospora yang terbungkus dinding yang resisten. Jika berada pada keadaan yang menguntungkan, oospora akan berkecambah dan membentuk hifa pendek yang ujungnya terdapat zoosporangia. Selanjutnya zoosporangia ini akan membebaskan zoospora untuk memasuki siklus baru lagi.

3. PROTISTA MIRIP TUMBUHAN (ALGA)

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa penggolongan protista berdasarkan cara mendapatkan nutrisinya tidaklah berkaitan dengan taksonomi. Demikian  pula kelompok alga di sini,  bukanlah nama taksonomik, jadi beberapa anggota di antaranya tidaklah memiliki hubungan kekerabatan sama sekali.

Alga dapat ditemukan di perairan dan tempat-tempat yang lembab.  Protista ini kebanyakan uniseluler, namun ada beberapa yang multiseluler dengan bentuk-bentuk yang bervariasi seperti filamen, lembaran dan modifikasi bentuk yang lebih kompleks. Beberapa di antaranya hidup bersimbiosis.

Selain memiliki klorofil, alga juga memiliki pigmen-pigmen lain yang tersimpan dalam plastida. Plastida yang  menyimpan klorofil dan pigmen lain disebut kloroplas sedangkan yang menyimpan pigmen lain tanpa ada klorofil disebut kromatofora. Anggota kelompok alga ada enam filum di antaranya yaitu: Euglenophyta, Pyrrophyta, Bacillariophyta, Chrysophyta, Phaeophyta,  Rhodophyta dan Chlorophyta.

  1. Euglenophyta

Euglenophyta hidup di air tawar dan dapat bergerak dengan cepat dengan bantuan satu atau dua flagelanya yang berada pada suatu kantung yang terletak di bagian ujung depan. Di dekat kantung ini terdapat stigma atau bintik pigmen (pigment spot) atau ada yang menyebutnya bintik mata. Pada umumnya euglenophyta memiliki bentuk sel oval, akan tetapi bentuk selnya dapat berubah dengan mudah karena tidak diilapisi oleh dinding sel yang kaku.

Euglenophyta memiliki klorofil a dan b sehingga mampu melakukan fotosintesis dan fotosintesis ini dapat berjalan maksimal karena adanya sifat  fototaksis positif (mendekati rangsang cahaya) pada euglenophyta. Protista ini akan mendekati cahaya karena memiliki fotoreseptor yang dapat mendeteksi adanya cahaya. Hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk polisakarida yang disebut paramilum. Contoh euglenophyta yaitu Euglena viridis, struktur tubuh euglena  dapat dilihat pada gambar 5.4.

     2. Pyrrophyta (Dinoflagellata)

Pyrrophyta atau alga api, hidup diperairan yang luas dan memiliki pigmen dominan xantofil, sehingga ketika terjadi pertumbuhan populasi yang dahsyat (bloom) menimbulkan air pasang merah seperti api dan mengandung toksin. Ikan dan hewan laut yang berada disekitarnya mengalami kematian besar-besaran akibat toksin tersebut. Situasi yang pernah terjadi di perairan pantai Amerika Serikat, di negara-negara bagian Atlantik Tengah, yaitu terjadi bloom alga api spesies Pfiesteria piscicida (lihat gambar 5.5) yang menyebabkan terbunuhnya sejumlah besar ikan. Contoh lain alga api yaitu Ceratium, Gymnodinium dan Peridinium.

Sebagian besar alga api adalah uniseluler, namun banyak diantaranya yang membentuk koloni. Dapat bergerak aktif dengan bantuan sepasang flagelanya dalam alur tegak lurus. Denyutan kedua flagelanya menyebabkan gerakan memutar sehingga alga api ini disebut juga dengan dinoflagellata (bahasa Yunani dinos berarti berputar).

Alga api bereproduksi dengan membelah diri, kebanyakan hidup di laut dan sebagian kecil hidup di air tawar sebagai fitoplankton yang mampu melakukan fotosintesis. Sejumlah alga api hidup sebagai simbion mutualistik dengan hewan cnidaria yang membangun terumbu karang, hasil fotosintesis digunakan sebagai sumber makanan utama bagi komunitas terumbu karang tersebut. Beberapa alga api tidak memiliki kloroplas dan hidup sebagai parasit dalam hewan laut.

     3. Bacillariophyta (Diatomea)

Diatomea merupakan alga uniseluler yang kebanyakan hidup berkoloni. Dinding selnya tersusun atas pektin dan silika, yang terdiri atas dua bagian yang saling tumpang seperti kotak sepatu dan tutupnya sehingga terlihat unik. Dinding bagian bawah disebut hipoteka, sedangkan dinding bagian atas disebut epiteka. Pada gambar 5.6 tampak hipoteka dan epiteka pada Diploneis finnica. Contoh lain diatomae yaitu Navicula monilifera dan Pinnularia.

Diatomae hidup di perairan sebagai fitoplankton yang mampu melakukan fotosintesis. Hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk polimer glukosa yang disebut laminarin. Hewan-hewan laut kecil memperoleh karbohidrat dengan mengkonsumsi diatomae ini. Diatomae yang sudah mati akan membentuk sedimen yang disebut tanah diatomae.

     5. Chrysophyta

Chrysophyta (alga keemasan), berasal dari bahasa Yunani, chrysos yang artinya keemasan, karena tubuhnya menampakan warna keemasan yang dihasilkan oleh pigmen karoten dan xanthofil. Sebagian besar alga ini merupakan organisme  uniselular dan beberapa di antaranya  multiselular. Sel-selnya berflagela ganda yang berada pada salah satu ujung selnya.

Habitat dari alga ini adalah di perairan tawar dan laut. Kebanyakan alga keemasan uniseluler hidup sebagai fitoplankton. Cara alga keemasan mendapatkan nutrisinya yaitu dengan menyerap senyawa organik yang terlarut maupun menelan partikel makanan dan bakteri dengan menjulurkan pseudopodianya.

Pada  gambar 5.7 tampak   Dynobryon divergens, contoh alga keemasan yang hidupnya di air tawar. Spesies ini membentuk koloni, namun jika kerapatan sel mencapai puncaknya, maka akan membentuk sista yang resisten yang dapat bertahan selama puluhan tahun. Contoh lain alga keemasan yaitu Vaucheria, Synura, dan Mischococcus.

      6. Phaeophyta

Salah satu karakteristik Phaeophyta atau alga coklat yaitu berwarna coklat, warna ini disebabkan oleh pigmen dominan yang dikandungnya yaitu fukoxantin. Dinding sel pada alga coklat terdiri atas selulosa dan algin yaitu suatu polisakarida yang membentuk jel. Oleh karena itu alga coklat terasa seperti berlendir dan seperti karet. Seluruh anggota alga ini adalah multiseluler dengan ukuran yang bervariasi. Alga coklat yang berukuran kecil berbentuk filamen, sedangkan yang berukuran besar memiliki struktur khusus yang terdiri dari holdfast, stipe, lamina (blade) dan float sebagaimana yang tampak pada gambar 5.8.  Holdfast,  bagian yang menyerupai akar memungkinkan alga menempel pada substratnya. Stipe, bagian yang menyerupai batang berfungsi menopang bagian atas alga. Blade, bagian yang menyerupai  lembaran daun berfungsi untuk fotosintesis. Float (pelampung) berfungsi agar alga tetap dapat mengapung.

Alga coklat yang berukuran besar (bersama dengan alga merah dan alga hijau) sering dikenal dengan sebutan rumput laut (seaweed). Beberapa alga coklat ada yang disebut kelp yang merupakan alga laut terbesar yang ditemukan pada perairan yang lebih dalam dari zona intertidal (pasang surut), misalnya Macrosystis. Stipe pada kelp panjangnya dapat mencapai 60 m. Contoh lain alga coklat yaitu Postelsia dan Laminaria.