4. Virus

Pernahkah kalian melihat seorang anak terkena gondong? Pipinya tampak bengkak seperti sedang menderita sakit gigi, suhu tubuhnya juga naik. Tahukah kalian apa penyebabnya? Tak lain dan tak bukan penyebabnya adalah virus. Banyak penyakit yang disebabkan virus, dari yang terlihat sepele seperti penyakit pilek sampai penyakit yang mematikan seperti AIDS. Seperti apakah virus dan apakah virus sama dengan bakteri?

Virus bukanlah mahluk hidup, tetapi merupakan bentuk pertengahan antara benda hidup dan benda tidak hidup. Sedangkan bakteri adalah mahluk hidup. Jadi virus dan bakteri berbeda, bukan? Hampir semua virus adalah agregat dari asam nukleat dan protein (gen-gen yang terbungkus dalam selubung protein). Untuk lebih jelasnya simak uraian berikut!

A. SEJARAH PENEMUAN VIRUS

Tahun 1883, Adolf Mayer, seorang saintis Jerman, menemukan penyakit mosaik yang menghambat pertumbuhan tanaman tembakau dan membuat daun tanaman tampak bercak-bercak. Penyakit tersebut dapat menular ketika tanaman yang semula sehat menjadi sakit setelah disemprot dengan getah tanaman yang sakit. Karena tidak berhasil menemukan mikroba di getah tanaman tersebut, Mayer menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan tidak dapat dilihat dengan mikroskop.

Tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari Rusia melakukan eksperimen  dengan menginfeksikan getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring bakteri, namun masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky menyimpulkan dua kemungkinan yaitu bakteri penyebab penyakit tersebut memiliki bentuk sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau bakteri tersebut mengeluarkan toksin yang dapat melewati saringan.

Kemungkinan kedua ini terbantahkan pada tahun 1897 setelah Martinus Beijerinck dari Belanda menemukan bahwa agen infeksi di dalam getah yang sudah disaring tersebut dapat bereproduksi. Hal ini didasarkan pada kemampuannya menimbulkan penyakit tidak berkurang setelah beberapa kali ditransfer ke beberapa tanaman. Beinjerinck berpendapat bahwa agen infeksi ini berupa partikel yang jauh lebih kecil dan lebih sederhana dari bakteri

Pendapat Beijerinck ini dibuktikan pada tahun 1935 oleh Wendell Meredith Stanley dari Amerika Serikat yang  berhasil mengkristalkan agen infeksi tersebut. Belakangan partikel ini dikenal sebagai virus mosaic tembakau (TMV-Tobacco Mosaic Virus).

B. CIRI-CIRI VIRUS

Sebuah partikel virus dikenal dengan nama virion. Ukuran virus lebih kecil daripada bakteri sehingga virus tidak dapat disaring dengan penyaring bakteri. Virus terkecil berdiameter hanya 20 nm, lebih kecil daripada ribosom, sedangkan virus terbesar sekalipun sukar dilihat dengan mikroskop cahaya. Gambar 3.1 memperlihatkan perbandingan antara ukuran virus, bakteri dan sel eukariotik.

Virus memiliki ciri-ciri yang dimiliki makhluk hidup yaitu mempunyai asam nukleat (DNA atau RNA) dan dapat bereproduksi. Virus juga memiliki cirri-ciri yang menyebabkan tidak bisa digolongkan ke dalam mahluk hidup yaitu tidak memiliki protoplasma dan dapat dikristalkan.

Meskipun virus dapat bereproduksi, namun reproduksinya hanya dapat berlangsung di dalam mahluk hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup. Hal ini terjadi karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Oleh karena itu, ketika  berada di dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat akan tetapi, manakala berada  di luar inangnya virus menjadi tak berdaya.

  1. Struktur Virus

Secara umum struktur  virus terdiri dari  asam nukleat yang terbungkus dalam suatu lapisan protein dan kadangkala masih terbungkus lagi di dalam suatu selubung virus.  Asam nukleat genom virus dapat berupa DNA ataupun RNA. Genom (kumpulan gen) virus dapat terdiri dari DNA untai ganda, DNA untai tunggal, RNA untai ganda, atau RNA untai tunggal (lihat Tabel 3.1 yang memperlihatkan kelas-kelas virus hewan berdasarkan tipe asam nukleat!). Selain itu, asam nukleat genom virus dapat berbentuk linear tunggal atau sirkuler. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal.

Bahan genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung protein yang disebut kapsid. Bentuk kapsid bergantung pada tipe virusnya, ada yang berbentuk batang (heliks), polihedral atau bentuk yang lebih kompleks. Lihat gambar 3.2, tampak struktur virus mosaik tembakau, adenovirus, virus influenza dan bakteriofage.

Kapsid virus terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer. Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid  terikat langsung dengan genom virus, misalnya virus mosaik tembakau. Virus yang menginfeksi saluran pernafasan hewan seperti adenovirus, memiliki kapsid polihedral dengan tanduk glikoprotein pada setiap puncak. Bakteriofage (virus yang menginfeksi bakteri), memiliki sebuah kapsid yang kompleks, yang tersusun dari sebuah kepala polihedral dan sebuah perlengkapan ekor. DNA disimpan di kepala dan bagian ekor berfungsi dalam penginjeksian DNA ini ke dalam bakteri.

Jika ingin menyimak materi sejarah penemuan virus dan struktur virus melalui video, silakan klik saja tayangan berikut!

2. Reproduksi Virus

Virus hanya bisa bereproduksi di dalam sel inang. Reproduksi virus terjadi dengan cara penggandaan materi genetik inang yang disebut replikasi. Terdapat berbagai variasi dari siklus reproduktif virus. Namun yang akan diuraikan di sini adalah siklus reproduksi virus bakteri (Bakteriofage atau disingkat fage) dan beberapa virus DNA untai ganda yang menggunakan salah satu dari dua mekanisme alternatif yaitu siklus litik dan lisogenik atau bahkan menggunakan kedua siklus reproduksi tersebut. Virus yang dapat bereproduksi dengan kedua siklus tersebut dinamakan virus temperat.

a. Siklus Litik

Disebut siklus litik karena mengacu pada tahapan akhir dari infeksi yaitu dinding sel inang akan mengalami lisis.  Tahap pertama disebut Fase Adsorbsi, ditandai dengan melekatnya ekor virus pada sel bakteri. Setelah menempel, virus mengeluarkan enzim lisoenzim (enzim penghancur) sehingga terbentuk lubang pada dinding bakteri untuk bisa memasukkan asam nukleat virus.

Tahap kedua disebut Fase Injeksi yakni tahap pemasukkan asam nukleat, dimana setelah terbentuk lubang pada sel bakteri maka virus akan memasukkan asam nukleat (DNA) ke dalam tubuh sel bakteri. Jadi kapsid virus yang kosong tetap berada di luar sel bakteri.

Tahap ke tiga disebut Fase Sintesis, yakni tahap pelipatgandaan komponen-komponen tubuh virus. DNA virus menonaktifkan DNA bakteri dan mengambil alih peran metabolik DNA bakteri.  DNA virus memproduksi protein virus yang kemudian dijadikan kapsid dan  bagian-bagian virus seperti kepala, ekor dan serabut ekor.  Adapun nukleotida yang berasal dari DNA bakteri digunakan untuk mereplikasi genom virus.

Tahap ke empat yakni Fase Perakitan dimana bagian-bagian virus yang telah terbentuk pada fase sintesis, akan dirakit menjadi virus sempurna. Jumlah virus yang terbentuk sekitar 100-200 buah dalam satu daur litik.

Tahap terakhir adalah Fase Lisis (pemecahan sel inang). Ketika perakitan selesai, maka virus akan menghancurkan dinding sel bakteri dengan enzim lisoenzim, akhirnya virus akan mencari inang baru.

b. Siklus Lisogenik

Berlawanan dengan siklus litik yang mengakibatkan lisisnya sel inang , siklus lisogenik mereplikasi genom virus tanpa menghancurkan sel inang. Pada siklus ini, beberapa jenis virus berada dalam keadaan dorman di dalam tubuh sel inangnya sampai jangka waktu tertentu dan tidak menyebabkan kerusakan serta menjadi bagian dari sel inang. Akan tetapi, jika ada penstimulus dari lingkungan maka virus akan aktif dan kembali melakukan daur litik dengan cara sintesis atau penggandaan materi genetik, merakit komponen-komponen tubuh virus, menghancurkan sel inang dan siap menginfeksi sel inang berikutnya.

Sama halnya dengan siklus litik, siklus lisogenik diawali dengan fase adsorbsi yang dilanjutkan dengan fase penetrasi. Namun, selanjutnya DNA virus akan memasuki Fase Penggabungan yaitu tahap dimana DNA virus memutus DNA bakteri, kemudian DNA virus menyisip di antara benang DNA bakteri yang terputus tersebut, sehingga di dalam DNA bakteri terkandung materi genetik virus.

Tahap selanjutnya adalah Fase Pembelahan, dimana setelah menyisip, DNA virus tidak aktif lagi dan disebut profage. Ketika DNA bakteri mereplikasi untuk melakukan pembelahan, secara otomatis profage juga ikut melakukan replikasi. Sehingga terbentuk dua sel anakan bakteri yang masing-masing mengandung profage yang identik.

Profage ini, jika ada stimulus dari lingkungan, seperti radiasi atau zat kimiawi tertentu, akan keluar dari kromosom bakteri dan memasuki siklus litik, sebagaimana yang biasa terjadi pada bakteriofage λ, suatu virus temperat (lihat Gambar 3.3). Namun, jika tidak, maka profage ini akan senantiasa berada dalam kromosom sel inang yang dapat dibawa dari generasi ke generasi.

Simak video berikut untuk lebih memahami siklus litik dan lisogenik virus!

C. PENYEBARAN VIRUS BARU

HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), merupakan virus yang muncul secara tiba-tiba. Virus ini muncul di San Fransisco, Los Angeles dan New York pada awal 1980-an, entah dari mana. Virus Ebola yang mematikan, juga muncul tiba-tiba pada tahun 1976 di Afrika Tengah. Demikian pula dengan sindrom pernafasan akut parah (Severe Acute Respiratory Syndrome – SARS) secara tiba-tiba muncul di Cina pada tahun 2002. Dalam jangka waktu delapan bulan, sekitar 8.000 orang terinfeksi, di antaranya sekitar 10 % meninggal.

Dari mana dan bagaimana virus-virus tersebut meledak di kancah kehidupan manusia sehingga menimbulkan penyakit langka? Ada tiga proses yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit-penyakit virus baru yaitu mutasi, kontak antara spesies dan penyebaran dari populasi terisolasi.

  1. Mutasi Virus

Mutasi yang terjadi pada virus yang sudah ada merupakan sumber utama penyakit virus baru. Virus RNA cenderung memiliki tingkat kecepatan mutasi yang luar biasa tinggi karena kesalahan dalam replikasi genom RNA. Virus ini tidak memiliki mekanisme perbaikan replikasi yang membantu mengurangi kesalahan sebagaimana dalam replikasi DNA.

Beberapa mutasi memungkinkan virus yang ada untuk berkembang perlahan-lahan  menjadi strain (varietas genetik) baru yang dapat menyebabkan penyakit pada individu yang telah memiliki imunitas terhadap virus moyangnya. Contohnya, epidemi flu, ini disebabkan oleh strain virus influenza baru yang secara genetik cukup berbeda dari strain sebelumnya yang imunitasnya sudah dimiliki orang.

  1. Kontak antara Spesies

Penyakit virus baru sering muncul, bisa berasal dari penyebaran virus yang sudah ada dari satu spesies inang ke spesies inang  yang lain. Misalnya, yang terjadi pada tahun 1997, setidaknya 18 orang di Hong Kong terinfeksi strain virus flu yang sebelumnya hanya terlihat pada burung. Pemusnahan massal 1,5 juta unggas domestik di seluruh Hong Kong  tampaknya dapat menghentikan wabah. Namun, pada tahun 2002, di sekitar Asia Tenggara muncul kasus infeksi strain virus baru pada manusia akibat kontak dengan unggas. Pada 2007, penyakit yang disebabkan oleh virus ini yang kemudian disebut flu burung (Avian Influenza), telah menewaskan lebih dari 180 orang dan lebih dari 100 juta burung telah mati akibat penyakit atau dibunuh untuk mencegah penyebaran infeksi.

  1. Penyebaran dari populasi terisolasi

Penyebaran penyakit akibat virus dari populasi terisolasi yang berukuran kecil dapat menyebabkan epidemi yang meluas. Misalnya, AIDS semula tidak diketahui namanya dan nyaris tak terlihat selama beberapa dekade sebelum mulai menyebar ke seluruh dunia. Dalam hal ini, faktor teknologi dan sosial, termasuk perjalanan ke luar negeri yang mudah terjangkau, transfusi darah, hubungan seksual dan penyalahgunaan obat intravena (melalui suntikan), memungkinkan timbulnya penyakit manusia yang sebelumnya langka, kini menjadi fenomena global.

Dapat dikatakan bahwa munculnya virus-virus baru, sebenarnya berasal dari virus lama yang mengalami mutasi dan menyebar ke spesies inang yang baru atau menyebar ke populasi spesies yang lebih besar. Perubahan lingkungan, dapat meningkatkan laju penyebaran virus yang bisa menyebabkan munculnya penyakit baru. Misalnya, pembangunan jalan baru yang melalui daerah terpencil dapat menyebabkan virus menyebar dari populasi manusia yang sebelumnya terisolasi.

D. KASUS-KASUS PENYAKIT AKIBAT VIRUS

Telah dijelaskan bahwa virus hanya dapat memperlihatkan tanda kehidupan jika berada di dalam tubuh mahluk hidup. Oleh karena itu virus akan selalu mencari inangnya untuk bisa tetap hidup baik itu dari bakteri, tumbuhan ataupun hewan termasuk manusia.  Karena virus bersifat parasit obligat, maka semua inang yang ditumpanginya akan menderita penyakit. Berikut kasus-kasus penyakit akibat virus yang menyerang manusia, hewan dan tumbuhan!

  1. Penyakit pada Manusia

a. Gondong

Penyakit gondong yaitu penyakit yang ditandai dengan membengkaknya kelenjar parotid, sehingga pipi di bawah telinga tampak membesar. Virus yang menyerang adalah Paramyxovirus, sebuah virus RNA beruntai tunggal. Infeksi virus ini melalui hidung dan mulut. Penderita yang terkena penyakit ini akan mempunyai kekebalan terhadap penyakit tersebut, sehingga tidak dapat terinfeksi lagi.

b. SARS

SARS yaitu penyakit sindrom pernapasan akut yang menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan. SARS yang semula muncul di Cina, merebak ke beberapa negara termasuk Indonesia pada tahun 2003. Virus yang menyebabkan SARS adalah virus RNA beruntai tunggal yang dikenal dengan sebutan coronavirus. Coronavirus ini setiap melakukan replikasi akan mudah mengalami mutasi menjadi strain baru, sehingga sukar sekali ditemukan vaksin yang bisa menolaknya.

c. Herpes Simpleks

Penyakit herpes simpleks umumnya menyerang membran mukosa di mulut, alat kelamin, mata dan kulit. Ada dua tipe penyakit ini yaitu Herpes Simpleks I yang menyerang pipi, mulut, dagu, dan hidung dan Herpes Simpleks II yang menyerang alat kelamin. Kedua penyakit ini disebabkan oleh Herpesvirus, suatu virus DNA beruntai ganda.

d. Influenza

Penyakit influenza mudah sekali menyerang saluran nafas bagian atas sehingga timbul gejala flu, antara lain keluar ingus, nyeri otot, batuk, demam, suhu tubuh meningkat dan selera makan hilang. Penyebab penyakit influenza adalah virus RNA beruntai tunggal yang dikenal dengan sebutan Orthomyxovirus. Sebagaimana halnya coronavirus, orthomyxovirus mudah mengalami mutasi menjadi strain baru, sehingga penderita influenza akan membentuk kekebalan yang tidak bisa untuk menolak ketika strain baru virus influenza menyerang kembali.

e. Flu Burung

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus flu burung pada mulanya menyerang unggas, namun mengalami mutasi membentuk strain baru yang bisa menginfeksi manusia. Strain baru virus flu burung ini kemudian disebut dengan H5N1. Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia melalui udara yaitu ketika manusia menghirup udara yang tercemar yaitu ketika terjadi kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi terutama kotorannya.

f. AIDS

Satu hal yang harus dimengerti oleh kalian bahwa AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan dan bukan penyakit kelamin. Penyebab AIDS adalah HIV, suatu virus RNA beruntai tunggal seperti tampak pada gambar 3.4. Virus ini menyerang sel-sel darah putih T4 yang berfungsi menjaga sistem kekebalan. Penderita yang terserang virus ini, tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh atau terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh, akibatnya mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh virus lain dan bakteri.

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual, kontaminasi virus melaui darah dan penularan dari ibu ke anak. Penularan HIV tidak terjadi melalui jabat tangan, bersinggungan ataupun menggunakan peralatan makan dan minum bersama.

Penularan HIV melalui hubungan seksual dapat terjadi jika salah satu telah mengidap HIV di tubuhnya. Penularan ini lebih mudah terjadi dengan adanya kekerasan seksual yang menyebabkan trauma fisik.   Selain itu, jika pasangan yang belum terinfeksi HIV telah menderita penyakit kelamin sebelumnya, juga akan meningkatkan resiko tertular HIV.

Kontaminasi virus melalui darah dapat terjadi melalui jarum suntik, transfusi darah, tato dan tindik. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik yang mengandung darah yang terkontaminasi HIV merupakan resiko utama terjadinya infeksi HIV. Resiko penularan HIV pada resipien transfusi darah sangat kecil di negara maju bahkan di Indonesia sekalipun. Indonesia melakukan seleksi pada pendonor dan juga ada sistem pengamatan HIV yang dirahasiakan. Adapun penularan melalui tato dan tindik jika alat pentato dan alat penindik mengandung darah yang terkontaminasi virus HIV.

Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim selama mingu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Menyusui akan memengaruhi resiko infeksi, demikian halnya dengan beban virus pada ibu saat persalinan. Beban virus yang tinggi di dalam tubuh ibu akan semakin meningkatkan resiko penularan.

Patut kita renungkan bersama bahwa tiadalah Allah menciptakan sesuatu tanpa maksud apa-apa di dalamnya. Demikian juga dengan penciptaan virus, tentu ada hikmah yang dapat dipetik darinya. Dan tiadalah Allah menurunkan suatu penyakit semisal AIDS kecuali Allah juga yang menurunkan obatnya. Tetapi ada yang lebih penting dari sekedar pengobatan yaitu pencegahan.

Bagaimana cara HIV bereplikasi? Yuk, simak video animasi berikut ini!

2. Penyakit pada Hewan

a. New Castle Desease (NCD)

NCD, di Indonesia dikenal dengan nama tetelo. Penyakit ini menyerang saraf unggas seperti ayam dan itik.  Ayam dan itik yang terinfeksi virus tetelo akan mengalami gejala mencret sampai menyebabkan kematian. Jika sembuh, ayam akan kehilangan keseimbangan yang ditandai dengan kepalanya tertekuk dan berputar-putar

  b. Foot and Mouth Disease (FMD)

FMD atau penyakit kuku dan mulut menyerang beberapa jenis ternak seperti sapi dan kerbau. Hewan ternak yang terserang virus ini tidak dapat berjalan dan tidak dapat makan. Penyakit ini secara tidak langsung merugikan manusia.

  c. Rabies

Rabies awalnya menyerang anjing sehingga penyakit ini dikenal dengan penyakit anjing gila, tetapi kemudian hewan lain  seperti kucing dan kera juga terkena penyakit ini. Bahkan manusia bisa terserang penyakit ini melalui gigitan atau air liur hewan yang terinfeksi. Penyakit ini disebabkan oleh Rhabdovirus, sebuah virus RNA beruntai tunggal.

3. Penyakit pada Tumbuhan

a. Mosaik pada tanaman tembakau

Mosaik pertama kali ditemukan pada daun tembakau dengan gejala bercak-bercak kuning. Tampak pada  Gambar 3.6 tembakau yang terkena penyakit mosaik. Penyebabnya adalah Tobacco Mosaic Virus. Selain ditemukan pada tanaman tembakau, penyakit mosaik juga ditemukan pada tanaman tomat dan kentang.

b. Penyakit belang daun pada tanaman kacang tanah

Penyakit belang daun pada kacang tanah disebabkan oleh Peanut Mottle Virus (PMoV). Gejala yang dapat terlihat yaitu adanya belang-belang hijau tua dan hijau muda yang tidak beraturan pada daun, tulang-tulang daun melekuk serta tepi daun agak menggulung ke atas.

E. MANFAAT VIRUS DALAM KEHIDUPAN

Dengan diciptakannya virus atau penyakit karena virus di muka bumi, membuat manusia berlomba-lomba mempelajari tentang virus. Banyak manfaat yang bisa digali dari virus baik secara langsung maupun tak langsung diantaranya:

  1. Sebagai Vektor dalam Produksi Tanaman Transgenik

Perakitan tanaman transgenik diarahkan untuk memperoleh kultivar tanaman yang memiliki nilai produksi, nutrisi dan penampilan berkualitas tinggi, juga resisten terhadap hama, penyakit dan cekaman lingkungan. Pada produksi tanaman transgenik, dikembangkan teknik rekayasa genetika dengan menyisipkan fragmen DNA suatu organisme berkualitas unggul ke genom suatu inang, dengan harapan gen yang disisipkan dapat diekspresikan di dalam inang. Salah satu cara menyisipkan gen adalah dengan memasukanya  melalui transfeksi (menggunakan vektor virus).

  1. Produksi Vaksin

Pembuatan vaksin, selain dengan memanfaatkan bakteri juga dapat dengan memanfaatkan virus. Pembuatan vaksin secara tradisional dilakukan dengan mengambil keseluruhan bagian-bagian virus yang dilemahkan. Kemudian vaksin ini disuntikan atau melalui oral pada manusia sehingga tubuh orang yang divaksinasi terpicu untuk memberikan respon imun dengan membentuk antibodi. Dengan demikian, jika kelak ada virus menyerang, maka tubuh telah kebal.

Kini, pembuatan vaksin sudah mulai menggunakan teknologi DNA rekombinan, dimana virus yang dimanfaatkan hanya DNAnya yang bersifat imunogen, kemudian disisipkan ke dalam sel bakteri. DNA rekombinan ini, dapat menggerakkan suatu protein khusus dalam jumlah besar dari selubung protein bakteri. Protein ini dapat menjadi pemicu terbentuknya respon kekebalan untuk melawan penyakit, sehingga dapat digunakan sebagai vaksin.

  1. Bioinsektisida

Pengendalian penyebaran hama serangga pada tanaman kini tidak lagi hanya mengandalkan insektisida sintetis. Bioinsektisida menjadi alternatif kedua dengan memanfaatan mikroorganisme atau virus.  Baculovirus, merupakan kelompok virus yang telah digunakan untuk bioinsektisida. Baculovirus mampu mengendalikan penyebaran hama serangga seperti hama penggerek jagung, hama penggerek kentang, kutu penggerek dan kumbang penghisap. Satu strain tertentu dari baculovirus, digunakan sebagai agen pengendali ulat Pseudaletia unipuncta yang menyerang rami dan tanaman sayuran.

Bioinsektisida ini memiliki siklus hidup yang pendek dan efektif pada jumlah kecil. Selain itu, bioinsektisida ini juga aman bagi manusia dan hewan, jika dibandingkan dengan pestisida sintetis, yang umumnya hanya berpengaruh pada satu spesies serangga.

  1. Pengembangan Genetika

Bukti bahwa DNA merupakan materi genetik datang dari studi-studi mengenai bakteriofage atau disingkat fage. Pada tahun 1952, Alfred Hershey dan Martha Chase melakukan studi terhadap fage dan menemukan bahwa DNA fage masuk ke dalam inang, sementara selubung proteinnya tetap berada diluar. Masuknya DNA fage, menyebabkan sel bakteri memproduksi sejumlah DNA dan protein fage yang kemudian membentuk fage baru. Jadi dapat disimpulkan bahwa DNA virus dapat memprogram sel.

Dengan diketemukannya bukti tersebut di atas, para ahli biologi kemudian berlomba-lomba dalam studi genetika seperti, bagaimana struktur DNA dan bagaimana peran DNA dalam penurunan sifat. Hal ini kemudian berlanjut ke studi-studi genetika yang lain seperti replikasi dan perbaikan DNA, pemrosesan RNA, transkripsi, translasi dan sebagainya.

F. DAMPAK EKONOMI DAN SOSIAL AKIBAT SERANGAN VIRUS

Serangan virus baru yang tiba-tiba memberikan dampak ekonomi dan sosial yang begitu nyata. Pada tahun 2005, pemerintah Indonesia memutuskan bahwa penyebaran flu burung di Indonesia sebagai kejadian luar biasa (KLB). Keputusan ini didasarkan pada ditemukannya beberapa korban meninggal akibat terjangkit virus H5N1 penyebab flu burung. Bahkan pada saat itu salah satu Kebun Binatang untuk sementara ditutup, karena sudah ada beberapa orang yang terinfeksi dari unggas di sana. Tentu saja, hal ini berakibat pada kekurangpercayaan masyarakat akan bersihnya kawasan kebun binatang dari virus H5N1 untuk beberapa waktu dan ini berdampak pada penurunan pendapatan.

Begitu pula yang terjadi pada peternak unggas terutama ayam yang ada di Indonesia. Peternak kecil mengalami kerugian yang amat besar, karena hanya mampu melakukan pemusnahan masal pada ternaknya dan tidak mampu membeli vaksin impor yang bisa menetralisir virus flu burung. Bersamaan dengan itu, masyarakat juga mulai ragu untuk mengkonsumsi daging ayam sehingga berakibat pada penurunan harga.

Lain halnya dengan dampak serangan virus HIV, penderita AIDS akan mengalami “hukuman sosial”. Masyarakat awam, umumnya mengaitkan penderita AIDS dengan perilaku seksual yang bebas dan menyimpang dari norma agama.  Sehingga masyarakat akan mengasingkan dan menghindari orang yang diduga terinfeksi HIV. Hal ini memberikan efek berkelanjutan dimana orang lebih suka tidak memeriksakan diri agar tidak mengetahui dirinya mengidap AIDS daripada tahu tetapi beresiko diasingkan dan dihindari.

Di sisi lain, karena penyakit AIDS membawa penderitanya kepada kematian, menyebabkan sebagian masyarakat ketakutan sehingga berlebihan dalam mengantisipasi tertularnya virus ini. Mengasingkan dan menghindari penderita AIDS karena takut bersinggungan kulit atau tidak mau menggunakan alat makan dan minum bersama dengan penderita dijadikannya sebuah solusi.

Dampak ekonomi akibat serangan HIV akan tampak nyata jika melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah yang banyak dihuni penderita AIDS. Dindikasikan mortalitas (angka kematian) daerah tersebut akan meningkat. Jika demikian, jumlah tenaga kerja terutama yang memiliki ketrampilan menjadi berkurang sehingga menurunkan produktivitas. Selain itu, menurunnya produktivitas juga dikarenakan banyaknya pekerja yang melakukan cuti atau mengundurkan diri karena sakit. Jika kondisi seperti ini meluas ke daerah-daerah lain, maka bisa menjadi suatu ancaman terpuruknya ekonomi dalam skala nasional.

G. PARTISIPASI REMAJA DALAM MENANGGULANGI PENYAKIT AKIBAT VIRUS

Kalian telah mengetahui tentang kasus-kasus penyakit akibat serangan virus terutama AIDS. Sudahkah kalian mengambil peran untuk turut menanggulanginya? Jika belum, maka sekaranglah saatnya kalian turut berpartisipasi, lakukanlah dari hal-hal yang kecil!

Tak dapat dipungkiri bahwa usia remaja seperti kalian memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Oleh karena itu salurkanlah kepada hal-hal yang positif. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dekadensi moral tengah menerpa kawula muda Indonesia. Pelanggaran-pelanggaran norma sosial yang dahulu dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah mulai terang-terangan tanpa beban rasa malu. Tapi, apakah ini akan terus menerus dibiarkan? Tentu jawabnya “tidak”.

Banyak hal yang bisa dilakukan pemuda dalam rangka berpartisipasi menanggulangi AIDS karena pemuda mempunyai peran strategis untuk pencegahan AIDS. Meskipun, sebagian besar penderita AIDS adalah pemuda, namun pemuda jualah yang dapat dijadikan subjek dalam rangka mencegah AIDS. Remaja usia sekolah, diharapkan dapat mengantisipasi perilaku-perilaku menyimpang yang dapat membawa rekan seusianya terserang HIV dengan jalan peer education (penyuluhan sebaya). Kampanye anti AIDS pada remaja akan efektif jika dilakukan pula oleh remaja. Biasanya remaja lebih suka menggunakan bahasa “gaul” daripada bahasa formal, untuk itu pemanfaatan bahasa gaul dan penyuluh sebaya diharapkan dapat meningkatkan efektivitas kampanye anti AIDS pada remaja.

Bagaimana pula peran pemuda dalam menghadapi penderita HIV yang sudah minder dan putus asa? Kalian bisa meyakinkan mereka bahwa HIV/AIDS bukanlah sebuah vonis mati. Nyatanya ada harapan untuk mereka yang mengidap HIV/AIDS untuk hidup biasa selayaknya orang sehat! Karena itu, yuk, kita lawan stigma yang biasa ada di sekitar pengidap HIV/AIDS dan simak baik-baik video melawan HIV/AIDS berikut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s