3. Klasifikasi

Tahukah kalian bagaimana cara kalian dapat mempelajari keanekaragaman hayati? Bagaimana cara mengetahui bahwa antara dua spesies yang tidak mirip ternyata berkerabat dekat seperti paus dan kelelawar? Sebaliknya, bagaimana cara mengetahui bahwa antara dua spesies yang memiliki kemiripan seperti burung dan kelelawar ternyata jauh kekerabatannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan terlebih dahulu mempelajari klasifikasi mahluk hidup.

  1. Tujuan dan Manfaat Klasifikasi Mahluk Hidup

Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan mahluk hidup ke dalam unit tertentu berdasarkan keseragamaan dalam keanekaragaman. Jadi, mahluk hidup yang beranekaragam akan menjadi anggota suatu kelompok yang sama jika memiliki ciri-ciri yang seragam atau sama.

Klasifikasi bertujuan untuk mendeskripsikan mahluk hidup agar mudah dikenali dan dipelajari. Hasil deskripsi  tersebut  bermanfaat untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara mahluk hidup yang satu dengan yang lain, mempelajari proses evolusi, bahkan bermanfaat untuk upaya konservasi spesies yang hampir punah.

  1. Dasar-Dasar Klasifikasi Mahluk Hidup

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dasar dari klasifikasi adalah keseragaman dalam keanekaragaman. Keseragaman yang dimaksudkan di sini adalah persamaan ciri yang meliputi ciri morfologi, anatomi dan informasi molekulernya (urutan nukleotida DNA dan RNA serta urutan asam amino dari protein).

Jika organisme diklasifikasikan hanya berdasarkan persamaan ciri morfologi saja, maka akan didapatkan jumlah anggota yang sangat banyak, oleh karena itu, untuk  menyederhanakannya perlu dilengkapi dengan persamaan ciri anatomi dan informasi molekuler. Biasanya, dalam klasifikasi, jumlah ciri-ciri yang menjadi kriteria akan berbanding terbalik dengan jumlah anggota kelompok. Misalnya kelompok A adalah kelompok hewan yang memiliki satu kriteria yaitu berkaki empat dan kelompok B adalah kelompok hewan yang memiliki dua kriteria yaitu berkaki empat dan berambut, maka jumlah anggota kelompok A akan lebih banyak daripada kelompok B dan sterusnya. Untuk lebih jelasnya lihat gambaran perbandingannya pada tabel 2.4 berikut!

3. Takson

Ketika melakukan pengelompokan organisme, ahli biologi menghadapi tiga disiplin  ilmu, yaitu taksonomi, sistematika dan klasifikasi. Disiplin ini meskipun tampak serupa, namun memiliki perbedaan  arti. Istilah klasifikasi telah disebutkan sebelumnya, masih ingat definisinya, bukan? Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata taksis dan nomos. Taksis berarti penyusunan, nomos berarti hukum (aturan). Jadi taksonomi didefinisikan sebagai ilmu tentang aturan, prinsip-prinsip dan prosedur yang digunakan  untuk menyusun (mengelompokkan) organisme pada takson tertentu. Sedangkan sistematika berasal dari bahasa Yunani, yaitu systema yang berarti menempatkan bersama-sama. Jadi sistematika didefinisikan sebagai ilmu tentang pengelompokkan (penempatan) mahluk hidup sesuai dengan hubungan kekerabatannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa klasifikasi adalah bagian dari taksonomi dan sistematika, sedangkan taksonomi adalah bagian dari sistematika.

Baik klasifikasi, taksonomi maupun sistematika, ketiganya berhubungan dengan pengelompokan mahluk hidup ke dalam unit tertentu, unit tertentu inilah yang disebut dengan takson (jamak=taksa). Takson disusun dalam tingkat-tingkat dan tiap-tiap tingkat memiliki nama yang berbeda. Ahli biolologi yang meperkenalkan sistem hirarkis ini adalah Carolus Linnaeus (1707-1778), seorang naturalis Swedia. Dalam bukunya  Systema Naturae yang diterbitkan pada 1758, Linnaeus memperkenalkan empat tingkat takson yaitu kelas, ordo, genus, spesies untuk dunia hewan. Tingkat-tingkat takson kemudian mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Dewasa ini, ada tujuh tingkat takson utama yang disusun dari tingkat tinggi (sedikit persamaan ciri) ke tingkat rendah (banyak persamaan ciri) yang digunakan baik untuk tumbuhan dan hewan (lihat tabel 2.5!).

Tabel 2.5 Tujuh Tingkat Takson Utama
NO TINGKAT TAKSON ISTILAH LAIN
1 Dunia Regnum, Kingdom, Kerajaan
2 Divisi/Filum* Divisio/Phylum
3 Kelas Classis
4 Bangsa Ordo
5 Suku Familia, Famili
6 Marga Genus
7 Jenis Species, Spesies
*)Divisi untuk tumbuhan, Filum untuk hewan

Selain tujuh tingkat takson utama, ada lagi beberapa tingkat takson yang kadangkala ditambahkan. Ada tingkat-tingkat takson yang penempatannya disisipkan diantara tingkat takson utama, kadangkala dengan penambahan kata “super” atau “sub”. Contohnya, penggunaan subordo atau superfamilia untuk tingkat takson diantara ordo  dan familia, penggunaan subclassis atau superordo  untuk tingkat takson diantara classis dan ordo dan seterusnya.

Beberapa tahun terakhir ini, tingkat takson “Domain” telah menjadi populer. Domain (kawasan) merupakan tingkat takson di atas Kingdom yang telah diusulkan sejak tahun 1990. Pada tingkat domain, mahluk hidup dibagi tiga yaitu Bakteri, Archaea dan Eukariota.

Berikut, disajikan kedudukan tanaman jambu air (Syzygium aquea), Melinjo (Gnetum gnemon) hewan bekicot (Achatina fulica)  komodo (Varanus komodoensis) dan dalam tingkat-tingkat takson pada Tabel 2.6.

Jika diperhatikan baik-baik, maka jambu air, melinjo, komodo dan bekicot dapat ditempatkan dalam satu kelompok yang sama yaitu pada Domain Eukariota. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keanekaragaman akan ditemukan keseragaman. Keseragaman pada keempat spesies tersebut adalah sama-sama sebagai organisme eukariotik, yaitu organisme yang memiliki inti sel (nukleus) sejati yang diselubungi membran. Bagaimana dengan jambu biji dan melinjo? Mengapa kedua spesies tumbuhan tersebut terpisah pada tingkat takson subdivisio? Dan bagaimana juga dengan komodo dan bekicot? Mengapa kedua spesies hewan tersebut terpisah pada tingkat takson filum? Lakukan diskusi kelas dengan panduan gurumu!

4. Tata Nama Ganda (Binomial Nomenclature)

Sudah menjadi fitrah manusia, sejak Allah menjadikannya dapat berbicara, manusia akan memberikan nama terhadap segala yang ditemuinya tak terkecuali tumbuhan dan hewan di sekitarnya. Namun, perbedaan bahasa pada tiap-tiap daerah menyebabkan untuk satu jenis tumbuhan saja memiliki nama yang berbeda atau sebaliknya ada satu nama untuk dua jenis yang berbeda, contohnya  “gedang”, dalam bahasa Jawa hal itu berarti pisang sedangkan dalam bahasa Sunda berarti pepaya. Perbedaan bahasa tersebut dapat menyebabkan salah pengertian terlebih lagi jika digunakan untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya biologi.

Mengingat begitu banyaknya keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan, maka diperlukan cara pemberian dan pemakaian nama (tata nama) yang berlaku secara internasional. Pemberian nama untuk suatu jenis menggunakan tata nama ganda atau Binomial nomenclature yang dicetuskan oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753 dalam bukunya Species Plantarum. Mulanya, Linnaeus menggunakannya untuk spesies tumbuhan. Pada saat ini, tata nama tumbuhan diatur dalam International Code of Botanical Nomenclature (ICBN) yang semenjak 2011 diganti menjadi International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN), sedangkan tata nama hewan diatur dalam International Code of Zoological Nomenclature (ICZN).

Tata nama ganda merupakan aturan pemberian nama baku yang diberlakukan bagi semua spesies mahluk hidup. Disebut tata nama ganda karena terdiri dari dua kata, adapun aturan penulisannya sebagai berikut:

  1. Menggunakan bahasa latin atau yang dilatinkan. Contoh: nama ilmiah melinjo berasal dari Maluku dengan nama daerah ganemu yang dilatinkan menjadi Gnetum gnemon.  
  2. Terdiri dari dua kata yang terpisah, kata pertama merupakan nama dari genus dan kata ke dua merupakan nama spesifik (penunjuk spesies). Contoh: nama ilmiah jambu biji adalah Psidium guajava, Psidium merupakan nama genus dan guajava merupakan penunjuk spesies.
  3. Nama genus selalu diawali dengan huruf kapital sedangkan penunjuk spesies selalu di awali dengan huruf kecil, meskipun penunjuk spesies menggunakan nama orang yang mengusulkan atau menggunakan nama tempat spesies berasal. Contoh: nama ilmiah bunga padma raksasa yang dipublikasikan oleh Joseph Arnold ditulis Rafflesia arnoldi atau nama ilmiah banteng yang merupakan spesies endemik Pulau Jawa ditulis Bos javanicus
  4. Penulisan nama menggunakan huruf Italik (huruf miring) pada teks dengan huruf tegak dan sebaliknya, jika pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah antara nama genus dan penunjuk spesies. Contoh: Nama ilmiah kelapa adalah Cocos nucifera atau Nama ilmiah kelapa adalah Cocos nucifera atau Nama ilmiah kelapa adalah Cocos nucifera.
  5. Nama autor boleh disertakan dibelakang nama spesies, untuk botani nama autor disingkat sedangkan untuk zoologi ditulis lengkap dan diikuti tanggal (atau hanya tahun) publikasi. Contoh: nama ilmiah bunga waru yang dipublikasikan oleh Linnaeus adalah Hisbiscus tiliaceus dan nama ilmiah siput laut adalah Patella vulgata Linnaeus, 1758.
  6. Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum suatu spesies, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung. Contoh: Upaya pelestarian in-situ badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) di Ujung Kulon.
  7. Pada saat penulisan nama ilmiah yang pertama kali, nama genus ditulis lengkap, selanjutnya nama genus disingkat dengan mengambil huruf awalnya saja yang diikuti titik. Contoh: Beberapa spesies ikan cupang yang termasuk dalam genus Betta adalah Betta splendens, B. picta, B. Persephone dan B. pugnax.

Jika ingin lebih paham lagi, silakan simak video berikut ini!

5. Identifikasi Mahluk Hidup dengan Kunci Determinasi

Jika kalian menemukan organisme semisal hewan tanah yang belum pernah kalian jumpai sebelumnya, kemudian kalian ingin mengenali spesiesnya, maka perlu bagi kalian untuk melakukan proses identifikasi. Melakukan identifikasi berarti mengungkapkan identitas suatu mahluk hidup dengan menentukan nama spesiesnya dan atau kedudukannya yang tepat dalam taksonomi.

Ada beberapa cara untuk melakukan identifikasi, diantaranya dengan literatur, gambar dan membandingan dengan specimen yang sudah diketahui identitasnya atau dapat pula menggunakan  kunci identifikasi (kunci determinasi). Akan tetapi, metode yang paling umum digunakan adalah dengan kunci determinasi.

Kunci determinasi merupakan panduan untuk mengidentifikasi dengan mencocokkan karakter morfologi spesimen yang hendak diidentifikasi dengan serangkaian deskripsi. Kunci determinasi yang praktis dan simpel untuk  digunakan  adalah kunci yang disusun secara menggarpu (dikotomi). Artinya, kunci ini disusun dengan dua alternatif ciri morfologi yang saling berlawanan. Jika salah satu dari kedua alternatif cocok, maka alternatif lainnya gugur. Namun, kunci dikotomi juga memiliki keterbatasan, jika kunci yang dibuat bersifat umum, maka tidak dapat untuk mengidentifikasi  ciri-ciri spesifik. Misalnya, bilamana kunci yang dibuat hanya menunjuk ke tingkat takson ordo, maka identitas specimen tidak dapat terungkap hingga ketingkat yang ada di bawahnya yaitu familia hingga spesies.

Ingin lebih jelas bagaimana membuat kunci determinasi, simak video berikut ini!